KESEHATAN MENTAL

Analisis Penyalahgunaan Seragam oleh Pelajar

 Sri Rahayu Utami (17512124)

2PA 07

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS PSIKOLOGI

2014

Kasus

 70837_620

 

 20120924tawuran_bulungan20120418_Tawuran_Pelajar_Usai_Ujian_Nasional


 

 

 

 

Rabu, 12 Februari 2014 18:31 WIB

Bogor (ANTARA News) – Tawuran antar pelajar kembali terjadi di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat antara SMA Wiyata Karisma dengan SMK Mensin di Kecamatan Kemang hingga menewaskan satu orang. Kepala Kepolisian Sektor Kemang Kompol Pramono DA mengatakan peristiwa tawuran pelajar terjadi sekitar pukul 14.30 WIB di Jalan Raya Kemang, Rabu.

Kompol Ade menyebutkan, korban tewas akibat bacokan senjata tajam pada pelipis sebelah kanan. Saat ditemukan kondisi korban tersungkur dijalanan dengan celurit masih menempel di pelipis korban. Sesaat setelah kejadian korban dibawa ke RS PMI untuk diotopsi demi keperluan penyelidikan.

Adapun kronologi singkat tawuran terjadi saat pelajar SMA Wiyata Karisma yang berjumlah 15 orang dihadang di depan Gang Masjid Jampang oleh siswa SMK Mensin. Pertemuan antara dua sekolah tersebut akhirnya memicu terjadinya tawuran, hingga warga dibantu pihak keamanan berupaya membubarkan aksi para pelajar yang brutal dengan menggunakan senjata tajam, hingga korban meninggal dunia tidak mampu dielakkan.

Hingga kini, lanjut Kapolsek, berkat kerja sama antara aparat dan masyarakat 10 orang pelajar yang terlibat tawuran telah diamankan, dan beberapa diantaranya diduga sebagai tersangka yang menyebabkan seorang tewas.

Kapolsek setempat mengatakan bahwa 10 orang pelajar yang ada saat tawuran, di amankan ke kepolisian untuk diproses. Pihak kepolisian sedang mengejar informasi siapa dalang utama dari tawuran ini dan pelaku pembacokan.

Tawuran antarpelajar di wilayah Kabupaten Bogor kerap terjadi. Hampir setiap tahunnya terjadi seperti pada tahun 2013 tepatnya bulan November seorang pelajar SMP Telaga Kautsa Kecamatan Cibungbulang bernama Muhammad Mahdor tewas setelah ditikam oleh pelajar dari SMP Pandu. Tiga pelajar SMP Pandu Cibungbulang menjadi tersangka kasus tawuran yang menewaskan seorang pelajar ini, dan kini telah menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Cibinong

 

Latar Belakang

           Perkelahian antar pelajar yang pada umumnya masih remaja sangat merugikan dan perlu upaya untuk mencari jalan keluar dari masalah ini atau setidaknya mengurangi. Masalah yang lebih menarik lagi adalah para pelajar di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia sering tawuran dan seolah-olah bangga dengan perilakunya tersebut.Padahal peristiwa tersebut sama sekali tidak membawa keuntungan bagi orang yang melakukannya. Dalam hal ini pelajar justru mendapatkan banyak dampak negatif karena melakukan tawuran.

        Jiwa muda yang masih selalu mudah tersulut emosinya. Masih labil dalam mengontrol diri dalam lingkungannya. Serta jiwa muda yang selalu haus akan pengakuan sosial. Selalu mencoba dan menantang hal-hal baru dalam kesehariannya. Seperti jiwa anak kecil yang selalu ingin tahu. Para siswa yang kebanyakan remaja ini ingin mencari tahu sejauh mana kehebatan dan kejantanan mereka dalam tawuran. Yang menang hanya cukup memiliki rasa menang. Tanpa ada pengakuan sosial atas kemenangan tawuran yang dianggap konyol. Sedang yang kalah menyimpan dendam untuk di lain waktu membalas kejadian tersebut.

          Perkembangan teknologi yang terpusat pada kota-kota besar mempunyai hubungan yang erat dengan meningkatnya perilaku agresif yang dilakukan oleh remaja kota. Banyaknya tontonan yang menggambarkan perilaku agresif dan games yang diduga bisa mempengaruhi perilaku. Inti dari pengaruh kelompok terhadap agresivitas pelajar di kota besar seperti Jakarta yaitu identitas kelompok yang sangat kuat yang menyebabkan timbul sikap negatif dan mengeksklusifkan kelompok lain.

                Tawuran adalah suatu tindakan anarkis yang dilakukan oleh dua kelompok dalam bentuk perkelahian masal di tempat umum sehingga menimbulkan keributan dan rasa ketakutan pada warga yang ada di sekitar tempat kejadian perkara tawuran. Biasanya terjadi pada saat pulang sekolah atau saat mereka bolos sekolah sehingga ada waktu luang dan kesempatan untuk melakukan tawuran. Peristiwa ini bisa terjadi antar pelajar sekolah, antar pendukung / suporter, antar pemeluk agama, dan sebagainya. Namun yang paling sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari adalah tawuran pelajar sekolah. Tawuran antar murid sekolah biasanya terjadi karena berbagai hal, sebab-sebab terjadinya tawuran diantaranya yaitu budaya atau kebiasaan murid sekolah dari dulu, saling ejek-mengejek antar pelajar sekolah, ingin balas dendam karena ada yang diganggu, keributan imbas dari suatu pertandingan atau perlombaan, dll.

              Peristiwa tawuran pelajar kini sudah menjadi budaya yang sulit diberantas karena siswa siswi yang perilakunya tidak baik akan menjadi provokator tawuran dan memaksa teman-temannya serta adik kelas untuk mengikuti tawuran tersebut. Bagi yang tidak ikut tawuran biasanya akan dimusuhi, dikerjai, dimaki, diejek, bahkan bisa diperlakukan kasar dari para pelajar yang berperilaku tidak baik. Pelajar yang tertekan oleh doktrin kakak kelasnya ini akan mengalami kebingunga dan merasa terbebani juga bisa mengalami stress.

Teori

          Dilihat dari sudut pandang Psikologi, seorang remaja melakukan tawuran dijelaskan oleh beberapa teori , yaitu teori dari Albert Bandura, Jean Piaget, Kohlberg, Erickson dan Elkind. Bandura seorang psikolog yang mengembangkan Teori Social Learning, beranggapan bahwa perilaku agresif merupakan sesuatu yang dipelajari dan bukannya perilaku yang dibawa individu sejak lahir.

         Jean Piaget seorang tokoh Psikologi Kognitif menjelaskan bahwa remaja dimasukkan dalam tahap pemikiran formal-operasional (formal-operational thought). Pada masa ini, mereka mencoba menyusun hipotesa dan menguji berbagai alternatif pemecahan masalah. Misalnya masalah sehari-hari di dalam lingkungan teman sebaya. Mereka menalami konflik dengan sekolah lain, para remaja yang aspek kognitifnya belum matang mencoba untuk menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri yaitu berupa tawuran.

         Menurut Kohlberg seorang psikolog yang mengembangkan Teori Moral, mengklasifikasikan remaja dalam tahap konvensional. Pada masa ini, seorang remaja mulai menyadari akan adanya tuntutan yang berasal dari luar dirinya, seperti lingkungan teman-temannya. Teori perkembangan kepribadian dari Erickson juga menjelaskan perihal remaja. Erickson mengatakan bahwa remaja akan memasuki masa kekaburan identitas. Mereka menjadi sadar bahwa dunia yang didiaminya sangat kompleks dan tidak dapat mengerti apa yang diinginkan oleh mereka. Seorang tokoh Psikologi Kognitif yang bernama Elkind menjelaskan tentang pola pikir pada masa remaja. Menurut Elkind salah satu ciri ketidakmatangan berpikir pada remaja adalah karena adanya keistimewaan dan kekuatan dalam diri remaja tersebut.

Analisa

              Tawuran pelajar adalah kejahatan yang biasanya di kota-kota besar. Biasanya dilakukan oleh para pelajar. Mereka berkumpul di tempat-tempat umum yang ramai seperti halte, mall, jalan-jalan protokol, dan lain-lain. Mereka siap mencari lawannya, tetapi tak jarang sasaran mereka justru pelajar sekolah yang tidak pernah ada masalah dengan sekolahan mereka. Dengan berpura-pura menanyakan nama seseorang yang mereka cari, dengan beraninya merampas atau meminta uang dengan paksa kepada pelajar yang mereka temui. Dengan berbekal senjata tajam, rantai, dan alat pemukul mereka siap mencari sasaraan dan melakukan tindak kekerasan. Para pelajar ini menurunkan kebiasan buruknya kepada adik-adik kelasnya, sementara mereka sudah naik satu jenjang menjadi mahasiswa. Dengan berbekal pengalaman tawuran ini, jadilah mahasiswa yang memiliki bibit-bibit kekerasan. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini, mahasiswa tawuran bukan saja antar kampus tetapi terjadi juga di dalam satu kampus. Ini bisa terjadi karena kebiasaan buruk mereka sebelum menjadi mahasiswa. Bibit-bibit kekerasan sudah tertanam begitu dalam sebelum mereka melangkah ke jenjang mahasiswa.

              Mengapa pelajar begitu mudah untuk melakukan tindak kekerasan tawuran, inilah penyimpangan-penyimpangan yang tumbuh subur pada diri para pelajar. Mereka beralasan karena solidaritas pertemanan, di sinilah kekeliruan awal yang harus cepat dibetulkan sehingga tidak berkembang menjadi suatu kebutuhan untuk melakukan tawuran ini. Remaja atau generasi muda berada dalam dua paradigma yang saling bertolak belakang. Di satu sisi remaja dianggap sebagai usia potensial di mana mereka mempunyai kelebihan energi, berpikir tanggap, tangkas dan bermotivasi kuat. Di sisi lain masa remaja diartikan sebagai sumber keributan, sumber pemasalahan sosial, dan pertikaian.

           IPTEK yang berkembang dengan begitu pesat membuat dunia yang tadinya tampak luas kini terasa sempit. Arus informasi dari yang baik hingga buruk dapat diakses oleh kaum muda dengan mudah. Kebebasan juga cenderung berlebihan sekarang. Puluhan media masa lahir, dari yang bermutu tinggi hingga yang hanya mengandalkan gambar wanita berpakaian minim. Jalan dialog damai ditinggalkan, jalan pintas yaitu demonstrasi terjadi di mana-mana. Dalam masa ini, batas-batas tertentu, kebebasan diperlukan, namun, ketika kebebasan diartikan sebagai kebebasan tanpa batas, demokrasi menjadi anarkis, kedisiplinan diremehkan, nilai kebebasan jatuh. Di sisi lain, kaum muda ini belum memiliki pegangan moral yang kuat untuk menyaring informasi dan mengolah kebebasan itu.

                  Karenanya, berbagai informasi dan pemenuhan kebutuhan yang negatif dengan mudah meracuni mereka. Budaya kekerasan yang dimuat oleh berbagai media dengan mudah berakar dalam diri mereka. Inilah titik tolak munculnya kekerasan yang akan diwujudkan dalam tawuran, misalnya.

               Beberapa teori psikologi dapat menjelaskan bagaimana peristiwa tawuran ini bisa terjadi. Menurut Bandura seorang tokoh Social Learning, perilaku agresif merupakan sesuatu yang dipelajari dan bukannya perilaku yang dibawa individu sejak lahir. Perilaku agresif ini dipelajari dari lingkungan sosial separti interaksi dengan keluarga, interaksi dengan rekan sebaya dan media massa melalui modelling (Sarwono, Sarlito. 2009) . Dengan banyak melihat tayangan yang mengandung unsur kekerasan , remaja tersebut secara tidak sadar merekam dan melakukan apa yang dia lihat kepada orang lain. Contoh lainnya yaitu karena bergaul dengan teman yang memiliki sifat agresif yang sangat kuat, yang melakukan tindakan kekerasan, lama-kelamaan remaja tersebut mengikuti perilaku temannya tersebut.

           Seorang manusia, dalam hal ini remaja agar dapat bertahan hidup mereka mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan. Cara yang termudah adalah melakukan konformitas. Konformitas adalah suatu bentuk pengaruh sosial dimana individu mengubah sikap dan tingkah laku agar sesuai dengan norma sosial yang ada (dalam Baron, Branscombe, Byrne,2008) . Contohnya pada kasus tawuran, biasanya para siswa baru didoktrin oleh para senior yang pada intinya mereka harus mau membela kawan sekolah dengan cara apapun, kapanpun, dan dimanapun. Apabila mereka tidak melakukannya, mereka akan dianiaya dan dikucilkan. Oleh karena itu, adanya tekanan dari kelompok , mereka pun terlibat dalam tawuran.

           Teori dari Jean Piaget , seorang tokoh Psikologi Kognitif menjelaskan bahwa remaja dimasukkan dalam tahap pemikiran formal-operasional (formal-operational thought). Pada masa ini, mereka mencoba menyusun hipotesa dan menguji berbagai alternatif pemecahan masalah hidup sehari-hari yang mereka alami, sehingga mereka semakin menyadari keberadaan masalah-masalah yang ada disekelilingnya (dalam Papalia,D.E., S.W. Olds., R.D. Feldman.2009). Salah satunya, bagaimana membuktikan kesetiakawanan.. Konsekuensi yang sesuai dengan perkembangan kognitifnya mengatakan supaya ia mengikuti segala aturan kelompok, walaupun aturan kelompok itu negatif, misalnya tawuran. Ini adalah salah satu bentuk uji coba pemecahan masalah yang sedang dialami oleh mereka. Remaja yang belum matang kemampuan kognitifnya mencoba membantu temannya sebagai bukti kesetiakawanannya, padahal banyak konsekuensi yang harus dia pertimbangkan.

          Selanjutnya menurut seorang psikolog yang mengembangkan Teori Moral yang bernama Kohlberg mengklasifikasikan remaja dalam tahap konvensional. Pada masa ini, seorang remaja mulai menyadari akan adanya tuntutan yang berasal dari luar dirinya, seperti lingkungan teman-temannya. Secara lebih khusus, Kohlberg mengkelompokkan remaja pada tingkat perkembangan moral keempat yaitu orientasi hukum dan ketertiban (law and order orientation) (dalam Papalia,D.E., S.W. Olds., R.D. Feldman.2009) . Usaha-usaha konformitas atau menyamakan identitas diri dengan kelompoknya sangat mendominasi dirinya. Bagaimana ia dapat menjalankan tugas kelompoknya dengan sebaik-baiknya, walaupun itu negatif misalnya berupa tawuran. Baginya, ikut tawuran adalah pertimbangan moral yang paling tepat. Mereka dituntut untuk mengikuti tawuran, semata-mata untuk menyamakan perilakunya dengan norma yang berlaku dalam kelompoknya yang juga melakukan tawuran.

         Teori perkembangan kepribadian dari Erickson menjelaskan bahwa remaja akan memasuki masa kekaburan identitas. Identitas timbul dari dua sumber , yaitu penegasan atau penyangkalan remaja akan identifikasi masa kanak-kanak, dan konteks sosial serta sejarah mereka yang mendukung konformitas pada standar tertentu (Feist,Jess., G.J. Feist. 2010). Remaja sering kali menyangkal orang yang lebih tua dari mereka, memilih nilai-nilai teman kelompok atau sekawan. Bagaimanapun , lingkungan di mana mereka berada memainkan peran penting dalam pembentukan identitas mereka. Para remaja yang memasuki masa kekaburan identitas menjadi sadar bahwa dunia yang didiaminya sangat kompleks dan tidak dapat mengerti apa yang diinginkan oleh mereka. Jawaban-jawaban yang diperolehnya pada masa kecil kini tidak memadai. Pertanyaan who am I semakin menguat, sehingga mereka mengeluarkan apa yang mengganggu pikiran mereka lewat tindakan yang seharusnya tidak dilakukan yaitu salah satunya adalah tawuran.

         Mereka juga tidak berpikir secara matang, menurut seorang tokoh Psikologi Kognitif bernama Elkind, salah satu ciri ketidakmatangan berpikir pada remaja adalah karena adanya keistimewaan dan kekuatan dalam diri remaja tersebut. Remaja cenderung mencoba menunjukkan bahwa dirinya spesial, unik dan menganggap aturan tidak berlaku bagi seluruh dunia dan juga dirinya. Menurut Elkind remaja memiliki ciri kemunafikan yang tampak nyata. Remaja sering kali tidak menyadari perbedaan antara mengekspresikan sesuatu yang ideal (dalam Papalia,D.E., S.W. Olds., R.D. Feldman.2009). Dalam kasus ini misalnya membela teman , remaja tersebut membuat pengorbanan dengan ikut dalam tawuran sebagai pembuktian hal tersebut.

Dampak

        Dampak tawuran pelajar meliputi dampak psikologis dan dampak dalam masyarakat. Dampak psikologis meliputi frustrasi dan stres. Frustrasi adalah suatu keadaan dalam diri individu yang disebabkan tidak tercapainya kepuasan atau suatu tujuan karena adanya halangan atau rintangan untuk mencapai kepuasan atau tujuan tersebut. Frustrasi dapat dialami oleh para korban tawuran karena mereka tidak dapat mencapai tujuan yang mereka inginkan yang disebabkan karena rasa takut akibat aksi tawuran. Stres diartikan sebagai setiap tekanan, ketegangan yang mempengaruhi seseorang dalam kehidupan, pengaruhnya bisa bersifat wajar ataupun tidak, tergantung dari reaksinya terhadap ketegangan tersebut. Stres yang terlalu berat dapat mengganggu kondisi mental pelaku tawuran sehingga pelaku tawuran tidak mampu menjalani aktifitasnya seperti biasa.

            Dampak dalam masyarakat menyebabkan merusak identitas bangsa, merusak citra keluarga dan hubungan antar anggota keluarga, membahayakan keselamatan diri, serta merusak fasilitas umum. Tawuran pelajar yang sekarang ini sering terjadi dapat berdampak buruk bagi identitas bangsa Indonesia di mata negara lain. Hal ini membuat bangsa lain melihat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tidak bisa menyelesaikan suatu masalah dengan cara damai. Tidak hanya identitas bangsa yang menjadi buruk, citra keluarga pelaku tawuran pun menjadi buruk. Membangun sebuah citra yang baik di mata masyarakat tidaklah mudah. Namun, jika citra baik yang sudah dibangun lalu dirusak oleh kelakuan anak yang buruk dapat menyebabkan kerenggangan hubungan antar anggota keluarga. Selain itu, orang tua pun akan merasa malu dan kecewa atas tindakan anaknya tersebut.

                Aksi tawuran juga tidak akan lengkap jika tidak ada senjata yang digunakan untuk melawan musuhnya. Senjata yang dibawa umumnya senjata tajam yang dapat membahayakan diri sendiri dan bahkan dapat membahayakan orang lain. Tawuran selalu identik dengan senjata tajam seperti pisau dan batu. Aksi tawuran yang dilakukan di jalan raya dapat merusak fasilitas umum yang diakibatkan karena pelemparan batu-batu oleh para peserta tawuran. Kerusakan fasilitas umum tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga merugikan pemerintah daerah. Hal ini dikarenakan pemerintah daerah harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk memperbaiki fasilitas umum tersebut.

Kesimpulan

           Seragam memiliki pengaruh besar terhadap pelajar, karena dengan seragam tersebut mereka bisa melakukan banyak hal. Dalam kasus ini adalah tawuran.Dilihat dari segi psikologi banyak sekali yang mempengaruhi seorang pelajar melakukan tawuran. Seorang remaja karena bergaul dengan teman yang memiliki sifat agresif yang sangat kuat, lama-kelamaan remaja tersebut mengikuti perilaku tersebut. Remaja yang memakai seragam merasa bangga dengan dirinya dan berani melakukan apa yang mereka inginkan. Mereka ingin merasa dihargai. Remaja juga melakukan konformitas dengan kelompoknya yang juga memakai seragam. Karena mereka merasa dengan menggunakan seragam dan bergabung dalam suatu kelompok yang sama mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan bisa membuat orang merasa takut kepada mereka.

Saran

            Dalam hal ini pembinaan dan bimbingan baik dari pihak orang tua maupun sekolah harus lebih berperan aktif dalam menanggulangi aksi tawuran antar pelajar. Pada pihak orang tua harus lebih intensif dalam memberikan arahan baik yang bersifat mendidik maupun yang bersifat pengajaran mengenai nilai dan moral bagi anak. Pihak sekolah pun dalam hal ini juga tidak kalah penting peranannya dalam pendidikan karakter anak dan adapun anak berkarakter tidak sesuai dengan yang diharapkan maka kerjasama dalam perbaikan karakter siswa adalah tugas bersama. Pihak masyarakat dan pemerintah daerah pun sangat dibutuhkan peranannyadalam pengawasan di sekitar lingkungan sekolah maupun ditempat umum.

Daftar Pustaka

Baron, R.A., D.Byrne, dan N.R. Branscombe.(2008). Social Psychology (12th ed).Boston : Pearson

Feist,Jess., G.J. Feist.(2010). Teori Kepribadian (buku 2) (7th ed). Jakarta : Salemba Humanika

Papalia,D.E., S.W. Olds., R.D. Feldman.(2009).Human Development (10th ed). Jakarta : Salemba Humanika

Sarwono, Sarlito., Meinarno A. Eko.(2009). Psikologi Sosial. Jakarta : Salemba Humanika

http://www.antaranews.com/berita/418655/tawuran-pelajar-di-bogor-satu-orang-tewas

http://psikologi-untar.blogspot.com/2012/10/dampak-psikologis-tawuran-pelajar.html