Plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagaianya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Sejauh ini permasalahan tentang hak cipta merupakan salah satu faktor yang masih menghambat pengembangan jurnalisme online. Banyak tulisan yang dimuat dalam portal berita mempunyai kemiripan bahkan sama persis dengan penulis yang berbeda.

Pro-kontra terhadap plagiarism pun bermunculan. Ada penulis yang mengalami peristiwa hasil karya tulisannya yang dionlinekan dijiplak oleh orang lain yang kebetulan juga namanya pun sama. Penjiplakan karya tulisnya pun tidak terjadi sekali saja, namun berkali-kali. Akhirnya penulis media online ini pun menyerah dan pasrah bila hasil karyanya ditiru atau bahkan kemungkinan sama dengan orang lain.

Jurnalis Online harus memutuskan tentang hal-hal seperti Format media yang mana, yang terbaik untuk menyampaikan suatu berita (multimediality). Sejauh ini bandwidht dan hak cipta merupakan faktor-faktor struktural yang masih menghambat pengembangan content multimedia yang inovatif. Memberi pilihan pada publik untuk memberi tanggapan, berinteraksi, atau bahkan meng-customize (menyesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan publik bersangkutan) terhadap berita-berita tertentu (interactivity). Mempertimbangkan cara-cara untuk menghubungkan (connect) berita yang ia buat dengan berita lain, arsip, sumber data dan seterusnya lewat hyperlinks(hypertextuality).

Di luar device pengguna, jurnalisme online—seperti halnya bentuk-bentuk komunikasi lain yang memanfaatkan media digital online- berhadapan dengan kondisi infrastruktur yang tersedia dalam jaringan komputer. Besarnya bandwidth, routing dan kualitas media jaringan komputer juga merupakan variable yang menentukan kualitas komunikasi antara device pengguna dengan device penerbit. Di samping sosiologi pengguna sasaran, faktor-faktor yang saya sebut di atas merupakan beberapa variable yang harus diperhitungkan dalam mendesain format tampilan maupun isi serta arsitektur informasi yang akan disajikan.

Apa yang disebut ‘kebebasan memilih’ dalam media online, sebetulnya bukanlah sebuah kebebasan pilihan yang sejati melaikan ilusi memilih; sebab pada dasarnya jurnalis atau penerbit online telah terlebih dahulu menentukan opsi-opsinya (dalam prakteknya dapat berupa rujukan dengan menggunakan hyperlink). Inilah salah satu aspek yang membuat jurnalisme online dapat menyajikan informasi lebih kaya ketimbang jurnalisme tradisional.

http://media.kompasiana.com/new-media/2012/04/20/jurnalisme-online-kreatifitas-vs-plagiat-456667.html

http://media.kompasiana.com/new-media/2011/03/23/plagiarisme-dalam-jurnalisme-online-349627.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme